Fenomena Self-Diagnosis di Era Digital: Tinjauan Literatur atas Perilaku, Risiko, dan Implikasi Kesehatan
Keywords:
Self-Diagnosis, Cyberchondria, Literasi Kesehatan Digital, Kesehatan Mental, Perilaku Pencarian Informasi KesehatanAbstract
Kemudahan akses informasi kesehatan melalui mesin pencari, media sosial, dan aplikasi symptom checker telah mendorong meluasnya praktik self-diagnosis, yaitu upaya individu mendiagnosis kondisi kesehatannya sendiri tanpa keterlibatan tenaga kesehatan profesional. Artikel ini bertujuan meninjau secara naratif literatur mengenai konsep, landasan teori, sumber informasi, serta dampak psikologis dan klinis dari perilaku self-diagnosis, dengan penekanan pada konteks kesehatan mental dan konteks Indonesia. Penelusuran dilakukan atas literatur konseptual dan studi empiris yang relevan, kemudian disintesis secara tematik dan dianalisis melalui tabel sintesis dan tabel komparatif. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa self-diagnosis dapat meningkatkan kesadaran kesehatan awal, tetapi juga berisiko memicu cyberchondria, kesalahan interpretasi gejala, dan penundaan konsultasi profesional. Ditemukan pula kesenjangan penelitian pada aspek dampak jangka panjang self-diagnosis berbasis media sosial di kalangan remaja Indonesia dan minimnya kajian tentang peran aplikasi berbasis kecerdasan buatan dalam memengaruhi keputusan mencari layanan kesehatan formal. Artikel ini merekomendasikan penguatan literasi kesehatan digital sebagai langkah mitigasi risiko self-diagnosis yang keliru.


